Lipida dalam Limbah

limbah, lipid  Tagged , No Comments »

Nur Hidayat

Lemak hewani dan lipida nabati sering menjadi permasalahan dalam sistem pengolahan limbah padat maupun cair. Dalam sistem penampungan limbah cair, lemak dan lipida  sering menyebabkan penyumbatan pipa saluran limbah dan menghasilkan bau yang mengganggu. Pada kondisi anaerob, lemak dan lipida  sering menyebabkan korosi pipa. Limbah yang mengandung lipida hewani ataupun nabati banyak dihasilkan dari restoran ataupun unit operasi industri. Secara kimia lipida  adalah trigliserida yang terdiri dari rantai lurus asam lemak dan gliserol.

Lipid dari limbah rumah makan dapat berasal tumbuhan, hewan dan ikan.pada limbah ikan, misalnya ikan lemuru maka yang sering dibuang adalah kepala, bagain pencernaan dan hati yang mengadung lipid 5,67% pdabagian kepala, 5,08 % pada pendernaan dan hatisebanyak 5,80 %. Komposisi asam lemak limbah ikan lemuru umumnya adalah asam lemak jenuh, monounsaturated dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) dengan asam lemak seperti palmitat, stearat, oleat, arakhidonat, eikosapentanoat dan dokosaheksaenoat. Total kandungan asam lemak jenuhnya paling tinggi pada hati  (42, 70 – 50,37 %) dan paling rendah pada kepala (Khoddami, et. al. 2009).

Degradasi asam lemak akan menyebabkan turunnya pH. Hal ini menyebabkan aktivitas perombakan oleh bakteri lipolitik pendegradasi surfaktan turun aktivitasnya karena bakteri-bakteri ini umumnya tumbuh pada pH netral dan alkali. Penurunan pH dapat diekan jika degradasi dilakukan menggunakan cahaya atau lebih dikenal dengan degradasi fotolitik Oksidasi fotolitik akan belangsung baik jika ditambahkan oksidan seperti persulfate dan hydrogen peroksida (Sanchez, et al, 2008). Oleh sebab itu penggabungan degradasi lemak menggunakan bakteri dan cahaya matahari perlu dikembangkan, misalnya menggunakan system bio-filter horizontal terbuka.

Pustaka

Khoddami, A., A..A. Ariffin., J. Bakar., and H.M. Gazali. 2009. Fatty Acid Profile of the Oil Extracted from Fish waste (Head, Intestine, and Liver) (Sardinella lemuru). World. Appl. Sci. J. 7(1): 127 – 131.

Sanchez, J.V., S.S. Martinez and M.R.T. Hernandez. 2008. Degradation of Gorn Oil Waste by Reaction and Under Mildy basic Media in the Presence of Oxidants Assited with Sun Light. Am. J. Environ. Sci. 4(6): 602 – 697.

Biopestisida

biopestisida  Tagged 2 Comments »

Alam telah menyediakan begitu banyak sarana untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Keberadaan mikroorganisme dapat digunakan sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) selain pemakaian pestisida kimiawi dan pestisida botani. Mikroorganisme pengendali OPT sering juga disebut sebagai pestisida biologi atau biopestisida (Novizan, 2002).

Menurut Novizan (2002), biopestisida adalah pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri patogen, virus dan jamur. Pestisida biologi yang saat ini banyak dipakai adalah jenis insektisida biologi (mikroorganisme pengendali serangga) dan jenis fungisida biologi (mikroorganisme pengendali jamur). Jenis-jenis lain seperti bakterisida, nematisida dan herbisida biologi telah banyak diteliti, tetapi belum banyak dipakai.

Jenis-Jenis Biopestisida

Jenis-jenis biopestisida menurut Khetan (2001), antara lain :

  1. Insektisida biologi (Bioinsektisida)

Berasal dari mikroba yang digunakan sebagai insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak dapat menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan. Jenis mikroba yang akan digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat yang spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada jenis-jenis lainnya (Sastroutomo, 1992).

Pada saat ini hanya beberapa insektisida biologi yang sudah digunakan dan diperdagangkan secara luas. Mikroba patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya adalah Bacillus thuringiensis (Khetan, 2001). Bacillus thuringiensis var. kurstaki telah diproduksi sebagai insektisida biologi dan diperdagangkan dalam berbagai nama seperti Dipel, Sok-Bt, Thuricide, Certan dan Bactospeine. Bacillus thuringiensis var. Israelensis diperdagangkan dengan nama Bactimos, BMC, Teknar dan Vektobak. Jenis insektisida ini efektif untuk membasmi larva nyamuk dan lalat (Sastroutomo, 1992).

Satu jenis virus menyerang serangga yang dikenal sebagai virus nuklir polihidrosis Heliothis telah didaftarkan di Amerika untuk digunakan di lahan pertanian. Virus ini sangat spesifik dan hanya menyerang Heliothis zea dan Heliothis virescens, nama dagangnya ialah Elcar (Sastroutomo, 1992).

Jenis insektisida biologi yang lainnya adalah yang berasal dari protozoa, Nosema locustae, yang telah dikembangkan untuk membasmi belalang dan jengkerik. Nama dagangnya ialah NOLOC, Hopper Stopper. Cacing yang pertama kali didaftarkan sebagai insektisida ialah Neoplectana carpocapsae, yang diperdagangkan dengan nama Spear, Saf-T-Shield. Insektisida ini digunakan untuk membunuh semua bentuk rayap (Sastroutomo, 1992).

  1. Herbisida biologi (Bioherbisida)

Termasuk dalam golongan herbisida ini ialah pengendalian gulma dengan menggunakan penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri, jamur dan virus. Bioherbisida yang pertama kali digunakan ialah DeVine yang berasal dari Phytophthora palmivora yang digunakan  untuk mengendalikan Morrenia odorata, gulma pada tanaman jeruk. Bioherbisida yang kedua dengan menggunakan Colletotrichum gloeosporioides yang diperdagangkan dengan nama Collego dan digunakan pada tanaman padi dan kedelai di Amerika (Sastroutomo, 1992).

  1. Fungisida biologi (Biofungisida)

Biofungisida menyediakan alternatif yang dipakai untuk mengendalikan penyakit jamur. Beberapa biofungisida yang telah digunakan adalah spora Trichoderma sp. digunakan untuk mengendalikan penyakit akar putih pada tanaman karet dan layu fusarium pada cabai.Merek dagangnya ialah Saco P dan Biotri P (Novizan, 2002).

Biofungisida lainnya menurut Novizan (2002), yaitu Gliocladium spesies G. roseum dan G. virens. Produk komersialnya sudah dapat dijumpai di Indonesia dengan merek dagang Ganodium P yang direkomendasikan untuk mengendalikan busuk akar pada cabai akibat serangan jamur Sclerotium Rolfsii.

Bacillus subtilis yang merupakan bakteri saprofit mampu mengendalikan serangan jamur Fusarium sp. pada  tanaman tomat. Bakteri ini telah diproduksi secara masal dengan merek dagang Emva dan Harmoni BS (Novizan, 2002).

Sinkronisasi kegiatan akademik dan kemahasiswaan

kemahasiswaan  Tagged , 1 Comment »

Nur Hidayat

Kegiatan akademik merupakan kegiatan wajib yang diikuti oleh mahasiswa sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus dari pendidikannya. Kegiatan akademik umumnya telah ditentukan dalam kurikulum yang dibagi dalam mata kuliah semester yangtediri dari jumlah sks tertentu. Kegiatan akademik umumnya dipenuhi dengan keilmuan keprofesian dan penalaran. Sebagai contoh di Jurusan Teknologi Industri Pertanian maka mahasiswa akan banyak mempelajari bagaimana menerapkan 5M (material, method, machine, man, dan modal) dalam suatu industri. Dalam pembelajaran umumnya kelima unsur tadi dipelajari dalam mata kuliah mata kuliah terpisah bahkan sering pada semester yang berbeda dan tidak berurutan sehingga kadang mahasiswa tidak memahami makna kongkrit dari materi kuliah selain bagaimana memperoleh nilai yang baik bagi kuliah yang ditempuhnya.

Di sisi lain mahasiswa dalam kehidupan kampus juga tidak terlepas dari kegiatan kemahasiswaan yang kadang juga menyita waktu kesehariaannya disamping waktu kuliahnya. Beberapa mahasiswa lebih menguatamakan kuliah,beberapa mahasiswa kadang melupakan kuliah dan beberapa yang lain dapat membagi kedua kegiatan dengan baik.

Saat ini banyak beasiswa yang ditawarkan untuk mereka yang berprestasi, tawaran ini menyebabkan banyak mahasiswa yang lebih mementingkan belajar daripada melakukan aktivitas kurikuler. Di sisi lain tawaran untuk kurikuler juga cukup banyak sehingga ada pula yang konsentrasi ke arah ini. Kondisi ini sering menyebabkan kebingungan di banyak mahasiswa dan peran dosen menjadi penting untuk dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam kedua bidang sehingga terjadi sinkronisasi antara kegiatan akademik dan kegiatan kemahasiswaan.

Dalam proses belajar mengajar kedua kegiatan di atas sebenarnya dapat disatukan, misal pada mata kuliah manajemen lingkungan dan pengeloaan limbah, mahasiswa diajak untuk menelusuri jalan sungai Brantas dari masuk kota hingga ke luar kota atau dari satu titikke titik tertentu, Hal inidapat dilakukan dengan mengaitkan kegiatan ko kurikuler sebagai pecinta alam dengan mengajak mahasiswa pecinta alam sebagai pemandu dan peserta kuliah sebagai peserta. Mahasiwa pecinta alam dapat menjelaskan penting daerah aliran sungai dan bagaimana menjaganya, mereka dapat menjelaskan macam dan pentingnya tanaman tepi sungai juga bahaya membangun di bantaran sungai. Dari sisi akademik mereka diminta oleh asisten kuliah untuk mencatat macam cemaran yang masuk ke sungai mulai dari sumber, jumlah dan kualitasnya, kemudian mereka diminta untuk mencari solusinya.diskusi dilakukan di ruang terbuka yang menggabungkan kedua kegiatan. Guna membuat suasan belajar lebih menarik dapat pula disertai permainan sehingga menumbuhkan kepekaan untuk bermasyarakat dengan baik dan berorganisasi secara sehat.

Permasalahan yang muncul adalah keterbatasan waktu yang ada karena system kuliah yang harus terikat oleh waktu. Pelaksanaan waktu penulusaran bantaran sungai misalnya butuh waktu cukup lama, diskusi di alama terbuka juga butuh waktu lama dan tempat yang luas dan ini sulit dilakukan diluar waktu libur. Pada waktu libur dosen, asisten dan mahasiswa mungkin juga enggan untuk melaksanakan karena itu adalah waktu yang mereka miliki untuk beristirahata dari rutinitas. Akibatnya model kuliah di atas sulit dilakukan selama tidak ada kebijakan waktu antara satu dosen dengan dosen lain, antara mata kuliah satu dengan mata kuliah lain.

Upaya yang dapat dilakukan agar kedua kegiatan ini dapat belangsung dengan baik maka konsep pembelajaran haruslah diubah. Harus ada sinkronisasi antar mata kuliah dalam satu semester sehingga dapat dikembangkan praktikum terpadu. Praktikum terpadu dilakukan selama satu hari penuh oleh dua atau tiga mata kuliah. Agar praktikum dpat berlangsung maka dua atau tiga mata kuliah tadi harus diajarkan pada hari yang sama hanya pada jam yang berbeda sehingga saat praktikum dapat dilakukan sehari penuh. Diskusi dilakukan sesuai materi dari tiap mata kuliah. Dalam praktikum bersama ini mahasiswa dapat mengikuti satu atau dua atau lebih mata kuliah. Sebagai contoh materi kuliah Teknologi pemanfaatan limbah, Perancangan produk dan Agroindustri produk fermentasi misalnya dilakukan pada hari yang sama. Saat praktikum, mereka daibawa ke industri tempe, peserta kuliah teknologi pemanfaatan limbah mengamati bagaimana limbah dihasilkan dan akan digunakan untuk apa, peserta perancangan produk melihat proses dan produk yang ada sehingga dapat membayangkan pengembangan produk sedang mahasiwa agroindustri produk fermentasi mempelajari proses fermentasi yang terjadi dan mengamati kenytaaan yang ada. Kegiatan kemahsiswaan juga dapat dilibatkan dalam praktikum ini missal dari unit kerohanian melihat tentang limbah yang ada juga dari impala serta yang lainnya.

Keberhasilan program ini dapat terjadi jika Jurusan juga melibatkan himpunan dalammerancang praktikum melalui diskusi antara dosen kelompok praktikum dengan himpunan. Pelibatan himpunan dalam proses belajar mengajar yang enyertakan unit-unit yang ada di dalamnya akan meningkatkan minat mereka belajar karena merasa dilibatkan dan meningkatkan minat mahasiswa untuk masuk kegiatan kemahasiswaan karena mereka melihat manfaat lebih selain dari kuliah.

Masalah baru yang mungkin muncul adalah kesiapan himpunan untuk membantu karena kadangkala mahasiswa yang aktif di suatu unittas yang akan dilibatkan dalam praktikum justru belum menempuh mata kuliah tadi atau jumlah mereka sangat sedikit. Dari sisi mahasiswa akan muncul kesulitan ketika mereka harus melakukan praktikum tiga sekaligus sehingga ketikaberada di satu tempat harus mengumpulkan data untuk semua materi. Dari sisi dosen, dibutuhkan kesediaan mendampingi mahaiswa yangcukup banyak ke luar kampus dan ini membutuhkan ijin apabila dilakukan serempak atau bahkan tempat yang dikunjungi tidakmemungkinkan kunjungandalam jumlah banyak sehingga harus dibuat bertahap dan ini artinya waktu yang dibutuhkan makin banyak.

Untuk itu saran yang dapat kami lakukan adalah.mahasiswa dibuat dalam kelompok dengan tugas dari tiap mata kuliah dan satu topic dari unitas yang ada. Saat diskusi membahas hasil mereka diminta menyatukan bahasan antar maka kuliah dan unitas yang terlibat sehingga menjadi satu kesatuan bukan secara terpisah.

Sanggupkah kita?

Kedelai

kedelai  Tagged No Comments »

Kedelai yang dibudidayakan manusia saat ini ada dua macam yaitu kedelai kuning (Glycine max) dan kedelai hitam (Glycine soja). Kedelai merupakan tanaman asli Asia subtropik seperti RRC dan Jepang Selatan sedang kedelai hitam merupakan tanaman asli Asia tropis yaitu Asia Tenggara. Kedelai telah menyebar ke Jepang, Korea, dan juga Indonesia. Beberapa kultivar kedelai juga telah dikembangkan di Indonesia, beberapa diantaranya adalah: Ringgit, Orba, Lokon, Darrox dan Willis.

Kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup penting di Indonesia selain beras. Meskipun kedelai bukan merupakan bahan pangan pokok namun kegunaannya yang cukup banyak (tempe, tahu, kecap dan sebagainya), dan dikonsumsi oleh semua lapisan masayarakat menjadikan kedelai sebagai bahan pangan vital.

Kebutuhan kedelai selama ini selain dipenuhi dari produksi lokal juga berasal dari impor. Impor kedelai dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan. Peningkatan ini selain disebabkan oleh meningkatnya permintaan juga diakibatkan harga kedelai impor lebih murah dengan ukuran biji lebih besar. Akibatnya petani semakin enggan menanam kedelai karena kalah bersaing. Dampak dari ketergantungan pada kedelai impor ini sebenarnya cukup membahayakan. Pada tahun 2005 kita pernah mengalami goncangan harga kedelai impor dan ini mengakibatkan banyak perajin tahu dan tempe yang gulung tikar karena tak mampu membeli bahan baku. Pemerintah mencanangkan untuk swa sembada kedelai pada tahun 2011. Swa sembada kedelai akan sia-sia jika tidak diikuti oleh manajemen distribusi dan transportasi yang baik, karena akan menimbulkan beban biaya yang sebenarnya tidak diperlukan.

Saluran distribusi memegang peranan penting untuk menekan biaya trasnportasi. Transportasi produk pertanian membutuhkan waktu yang relative lebih cepat dibandingkan produk elektronik. Meskipun kedelai merupakan produk kering, namun pengaruh cuaca dapat mempengaruhi kualitas kedelai selama transportasi dan penyimpanan. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang sentra produksi kdelai dan sentra perajin tahu tempe agar kerusakan akibat transportasi dapat diminimalkan.

Keberadaan varietas kedelai mutlak diperlukan untuk meningkatkan ketertarikan petani pada budidaya kedelai lokal. Dalam hal iniPemerintah melaluiDepartemen Pertanian telah melepaskan berbagai varitas unggul. Sebagai contoh pada tahun 1998 Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) MALANG telah melepas sebanyak 10 varietas kedelai unggulan. Kesepuluh varietas kedelai ini memiliki kualitas yang lebih unggul dibanding kedelai impor. Kedelai varietas unggul ini memiliki biji besar dan kandungan protein mencapai 42 persen. Bibit varietas unggulan yang telah dilepas adalah Burangrang, Anjasmoro, Argomulyo, Panderman, Argopuro, Gumitir, Baluran, Bromo, Merubetiri, dan Mahameru (Widianto, 2008).

Hasil produksi kedelai lokal optimal mencapai 2 ton per hektar dengan masa tanam sekitar 75 hari atau maksimal tiga bulan. Cita rasanya juga lebih enak dibanding kedelai impor, karena masih fresh dari panen. Sementara kedelai impor umumnya hasil panen tahun lalu. Permasalahannya tempe berbahan kedelai lokal cepat busuk, karena petani tidak melakukan pegeringan pasca panen secara maksimal sehingga, tingkat kekeringannya berbeda-beda dan mudah busuk saat disimpan atau digunakan. Kendala ini mestinya segera diatasi agar tidak menjadikan petani semakin enggan menanam kedelai atau perajin enggan menggunakan kedelai lokal.

Produktivitas rata-rata kedelai nasional masih rendah, tahun 2007 mencapai 13,07 ku/ha atau 1,3 ton/ha. Potensi hasil ditingkat penelitian dan percobaan mencapai 2 ton atau lebih. Senjang hasil masih tinggi antar ditingkat petani dan penelitian.

limbah tapioka

limbah  Tagged , No Comments »

Limbah padat tapioka yang dihasilkan dari pengolahan ubi kayu merupakan suatu media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme karena memiliki keseimbangan bahan-bahan organik dan anorganik di dalamnya yang merupakan nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Tjokroadikoesoemo (1986), limbah padat tapioka juga tidak mengandung bahan-bahan beracun bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan jasad renik.

Salah satu alternatif pengolahan limbah padat tapioka adalah dengan menjadikannya sebagai biofertilizer yaitu dengan cara menambahkan Biolink-5. Biolink-5 merupakan kumpulan dari 5 macam mikrorganisme yang berperan dalam pendegradasian bahan organik, yaitu Bakteri Bacillus thuringiensis, Bacillus subtilis, Bacillus megaterium, Lactobacillus plantarum, dan Khamir Saccharomices cerevisiae. Dengan pemanfaatan ini, limbah padat tapioka dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan ekonomis. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi pemanfaatan limbah padat tapioka sebagai biofertilizer

Salah satu teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah yang sederhana, murah dan effektif adalah pengomposan. Menurut Slamet (2000), pengomposan adalah suatu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktifitas mikroorganisme. Proses pengomposan secara alami berlangsung dalam waktu yang cukup lama yaitu 2 – 3 bulan, bahkan 6 – 12 bulan tergantung dari bahannya. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan bantuan penambahan inokulan, sumber nitrogen, dan air.

Pembuatan biofertilizer dari limbah padat tapioka dengan penambahan Biolink-5 yang tepat serta penentuan waktu pengomposan yang benar diharapkan dapat merubah karakteristik limbah padat tapioka yaitu dengan adanya penurunan rasio C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah yaitu ‹ 20 sehingga dapat digunakan sebagai biofertilizer yang dapat diserap oleh tanaman.

Penggunaan biofertilizer pada tanaman juga perlu di kaji lebih lanjut mengenai dampak yang dihasilkan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan studi mengenai efisiensi dan efektivitas penggunaan biofertilizer dari limbah padat tapioka dengan objek penelitian di daerah Pujon, Malang.

Upaya pemanfaatan limbah padat tapioka, selain merupakan bentuk pengelolaan lingkungan yang inheren dengan kualitas hidup manusia, juga berdampak pada perbaikan kesehatan lingkungan, peningkatan nilai ekonomi, pengurangan konsumsi pupuk kimia, dan peningkatan daya guna limbah padat tapioka.

Fermentasi Kombucha

fementasi, kombucha  Tagged Comments Off

Fermentasi adalah proses yang menyebabkan perubahan kimia dalam komposisi kompleks organik oleh tindakan satu atau lebih enzim yang diproduksi oleh mikroba. Fermentasi Kombucha dilakukan dengan penambahan sebanyak 10% kultur Kombucha pada medium cair yaitu larutan teh manis setelah itu disimpan selama 8-14 hari untuk menghasilkan teh Kombucha yang mempunyai kandungan asam tinggi dan selulosa di permukaan medium cair (Naland, 2004).

Medium cair yang digunakan pada fermentasi Kombucha adalah fermentasi sistem tertutup, karena setelah diinokulasi tidak dilakukan lagi penambahan medium kedalam fermentor, kecuali pemberian oksigen. Pada sistem tertutup ini, dengan semakin lamanya waktu fermentasi, laju pertumbuhan spesifik mikroba semakin menurun sampai pertumbuhan berhenti (Rahman, 1992).

Proses fermentasi dimulai ketika khamir dalam kultur Kombucha mengubah gula menjadi alkohol dan karbon dioksida, kemudian zat karbon tersebut bereaksi dengan air dalam teh untuk membentuk asam karbonat. Pada saat yang sama bakteri asetat membangun bentuk-bentuk lendir di sekeliling kultur Kombucha. Bakteri ini mengubah gula menjadi selulosa dan menyebabkan membran menutupi kultur Kombucha untuk pertumbuhannya. Pada saat yang sama pula bakteri ini memfermentasi alkohol yang dihasilkan oleh khamir menjadi asam asetat dan asam glukoronat (Frank, 1996)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fermentasi Kombucha

Proses fermentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain mikroba, medium fermentasi, fermentor, dan kondisi lingkungan. Seleksi terhadap jenis dan jumlah inokulum yang akan menentukan kualitas dan kuantitas hasil fermentasi (Rahman, 1989). Menurut Lapuz, et al (1967) cit Kurniawati (2002) keberhasilan pembentukan selulosa mikroba ditentukan oleh beberapa faktor seperti sumber nutrisi (karbon dan nitrogen), suhu inkubasi, umur kultur, dan jumlah inokulum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi Kombucha pada limbah cair industri tahu antara lain : nutrisi (penambahan karbon dan nitrogen), medium fermentasi, suhu fermentasi, kultur dan jumlah inokulum, ketersediaan oksigen, cahaya, goncangan terhadap medium fermentasi, adanya kontaminan, dan luas permukaan fermentor (Frank, 1996).

1. Nutrisi

Nutrisi merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan mikroba yaitu sejumlah nutrisi yang harus ada dalam medium pertumbuhan dalam jumlah tertentu. Jika faktor pembatas kurang dari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan mikroba, maka akan mengganggu proses metabolisme sel (Sa’id, 1998). Menurut Kumalaningsih dan Hidayat (1995), dalam kegiatannya bakteri dan khamir memerlukan penambahan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya, yaitu unsur karbon, nitrogen, fosfor, mineral, dan vitamin.

Nutrisi mempunyai dua fungsi yaitu sebagai sumber energi dan sintesis protoplasma. Klasifikasi nutrisi bagi mikroorganisme adalah senyawa yang dibutuhkan sebagai sumber karbon, sumber nitrogen, faktor tumbuh, dan ion-ion anorganik yang dibutuhkan untuk metabolisme dan pertumbuhan (Alaban, 1962 dan Lapuz, 1967 cit Kurniawati, 2002). Nutrisi yang dibutuhkan pada fermentasi Kombucha pada limbah cair industri tahu adalah sumber karbon dan sumber nitrogen.

2. Medium Fermentasi

Fermentasi Wine Pisang

fementasi, pisang, wine  Tagged , , 2 Comments »

Pisang merupakan buah yang mudah rusak setelah pemanenan. Guna mengatasi kerusakan buah maka dilakukan berbagai teknik untuk pengolahan pisang seperti keripik, pisang goreng, sale dan sebagainya. untuk buah yang telah lewat masak dan tidak dapat diolah menjadi sale dapat dijadikan juice ataupun wine.

Pembuatan Juice

Buah pisang yang baik dan telah masak, dikupas dan daging buah dipotong-potong. potongan buah ini diblender dengan air panas 100 C (pulp : air =1 : 4). Jika tidak memiliki blender yang tahan panas dapat dilakukan dengan cara merebus potongan-potongan pisang dengan air selama 30 menit. Bubur yang diperoleh di press dan disaring sehingga diperoleh juice pisang. Buat juice psang menjadi 10 Brix dengan sukrosa (gula pasir) kemudian tambahkan 0,5 mg/100 mL kalium metabisulfit. Juice kemudian dipasteurisasi (60 C 3 menit) dan masukkan freezer sampai siap digunakan.

Juice yang dihasilkan memiliki karakteristik (tergantung jenis pisangnya): pH 4,45; assam tartarat 0,08%, padatan terlarut 18 Brix, berat jenis 1,08; asam asetat 0,06%, abu 0,35%, protein 0,02%, gula 3,0 %, asam askorbat 9 mg/100mL.

Pembuatan Kultur Khamir (bibit)

Ragi roti sebanyak 4 gram dilarutkan dalam 200 mL juice pisang kemudian ditambah diamonium sulfat 0,3 g/100 mL sebagai nutrisi bagi khamir. Campuran ini dimasukkan dalam botol dan diinkubasi 48 jam pada suhu kamar.

Fermentasi

Juice pisang (4 L) dimasukkan dalam botol/wadah fermentasi kemudian ditambah bibit 3 % (v/v) dari inokulum khamir 48 jam. wadah fermentasi ditutup dengan penutup karet yang diberi saluran untuk membuang CO2. ujung pipa dicelupkan dalam larutan kalium metabisulfit 0,5 mg/L. Inkubasi dilakukan pada suhu kamar selama 2 minggu.

Jika fermentasi telah selesai (ditandai dengan tidaklagi terdeteksi adanya gelembung gas yang keluar), wine dipindahkan ke dalam botol wine dan dipasterisasi (60 C selama 30 menit) dan disimpan pada refrigerator.

Kaakteristik Wine pisang

pH 3,30; asam tartarat 0,85%, padatan terlarut 4,8 Brix, berat jenis 0,99; asam asetat 0,50%, abu 0,20%, protein 0,04%, asam askorbat 1,4 mg/100mL dan alkohol 5% (v/v).

PENERAPAN ANALISIS NILAI PADA DIVERSIFIKASI KEMASAN PRODUK SARI APEL

apel  Tagged , 1 Comment »

Imam Prasetya Sakti, E. F. Sri Maryani Santoso dan Nur Hidayat

ABSTRAK, 2006

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan kemasan baru dalam bentuk botol yang sesuai dengan selera konsumen dan mendapatkan alternatif terbaik pada pembuatan kemasan baru produk Sari Apel “Bagus”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis nilai yang meliputi tahap informasi, kreatif, analisa, pengembangan dan tahap presentasi.
Pada penelitian ini diusulkan empat alternatif pilihan yaitu [A1 = kemasan botol 380 ml (warna biru dan biru tua), B1 = kemasan botol 380 ml (warna biru muda, merah dan biru), A2 = kemasan botol 420 ml (warna biru dan biru tua), dan B2 = kemasan botol 420 ml (warna biru muda, merah dan biru)]. Hasil dari metode analisis nilai yang diterapkan didapatkan alternatif terbaik yaitu alternatif pilihan (B1 dan B2) bernilai 1,176 dan 1,093; mempunyai performansi 136,367 dan 142,686; dengan biaya produksi sebesar Rp43.440.000,- dan Rp48.900.000/tahun.

Kata Kunci (Key Word): Analisis Nilai

Isolasi khamir dari alam

Uncategorized  Tagged , , , No Comments »

Pada saat ini dengan gencarnya pemberitaan mengenai bio-etanol menjadikan popularitas khamir (yeast) semakin meningkat. kalau sebelumnya khamir hanya digunakan untuk membuat roti karena masyarakat sudah tidak bebas lagi memproduksi alkohol, kini produksi alkohol mulai giat lagi dan digunakan untuk energi.
kendala yang dihadapi masyarakat sering berkaitan dengan darimana memperoleh khamirnya. ada beberapa sumber yang dapat dipakai:
1. gunakan biakan murni, ini yang paling baik, dapat diperoleh di berbagai instansi penelitian atau perguruan tinggi.
2. gunakan fermipan yang biasa diapakai untk buat roti
3. gunakan ragi tape, lakukan fermentasi secara anaerob sehingga bakteri tidak tumbuh
isolasi dari alam misal dari bunga (bisanya pada bunga terdapat khamir akibat adanya madu disana) caranya hancurkan bunga campur dengan ditambah larutan gula dan tutup dalam rapat dalam botol, perhatikan adanya gelembung udara yang muncul. jika telah muncul ambil sebagian (10%) untuk inokulum pada larutan gula yang baru. lihat hasilnya, usahakan munculnya gelembung makin cepat. lakukan berulang hingga diperoleh bibit yang siap dipaia (perhatikan aroma yang muncul apakah berbau alkohol atau tidak)
semoga bermanfaat
selain kahmir adapula bakteri (Zimomonas mobilis)dapat diperoleh dari wadah legen atau caian deresan kelapa/enau/lontar.
salam
nur

Pemanfaatan LimbahIndustri kripik Apel Untuk Produksi Cuka Apel

apel, cuka, limbah  Tagged , , No Comments »

Nur Hidayat, Sri maryani dan Gunomo Djojowasito
Laporan RUK Tahun 2004

Pendirian industri berwawsan lingkungan merupakan salah satu alternatif yang harus dilakukan untuk mengurangi biaya operasional dengan cara memanfaatkan limbah yang dihasilkan sehingga menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.
PT Agrijaya Indotirta Malang adalah industri yang bergerak dalam bidang pengolahan sayuran dan buah antara lain pisang, apel, nanas. Pengolahan apel menjadi kripik menghasilakn limbah sebesar 2 ton ber hari berupa kulit apel dan bonggolnya. Kulit buah tersebut dibuang atau diambil oleh peternak disekitar untuk makanan ternak.
Hasil pelaksanaan Riset Unggulan Kemitraan:
1. Percobaan optimasi pembuatan cuka apel dengan perlakuan suhu fermentasi dan penambahan jumlah inokulum. Hasil percobaan pada fermentor skala laboratorium menunjukkan bahwa suhu 70 C dengan waktu 10 menitsudah efektif mematikan mikroorganisme dan jumlah inokulum yang efektif digunakan adalah 10%
2. membuat mesin fermentor yang efektif dan efisien untuk skala laboratorium dan industri. Untuk skala laboratorium dibuat dua fermentor dengan ukuran 5 dan 10 L sedang skala industri 300 L. hasil percobaan pada skala industri menunjukkan bahwa dalam fermentasi cuka selama dua minggu dapat dicapai kadar cuka sekitar 3 %, ini berarti dapat mempersingkat waktu fermentasi yang selama ini dilakukan dengan skala kecil (20 L).
3. pasteurisasi yang dilakukan hany sekali mampu meningkatkan kecerahan warna produk, namun hasil ini belum diuji terhadap daya terma konsumen akibat perubahan warna.


© 2012 materi kuliah dan abstrak publikasiku.
WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Provided by WPMU DEV -The WordPress Experts   Hosted by Edublogs.org
Entries RSS Comments RSS Log in