Kedelai
kedelai Tagged kedelai Maret 31st, 2009Kedelai yang dibudidayakan manusia saat ini ada dua macam yaitu kedelai kuning (Glycine max) dan kedelai hitam (Glycine soja). Kedelai merupakan tanaman asli Asia subtropik seperti RRC dan Jepang Selatan sedang kedelai hitam merupakan tanaman asli Asia tropis yaitu Asia Tenggara. Kedelai telah menyebar ke Jepang, Korea, dan juga Indonesia. Beberapa kultivar kedelai juga telah dikembangkan di Indonesia, beberapa diantaranya adalah: Ringgit, Orba, Lokon, Darrox dan Willis.
Kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup penting di Indonesia selain beras. Meskipun kedelai bukan merupakan bahan pangan pokok namun kegunaannya yang cukup banyak (tempe, tahu, kecap dan sebagainya), dan dikonsumsi oleh semua lapisan masayarakat menjadikan kedelai sebagai bahan pangan vital.
Kebutuhan kedelai selama ini selain dipenuhi dari produksi lokal juga berasal dari impor. Impor kedelai dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan. Peningkatan ini selain disebabkan oleh meningkatnya permintaan juga diakibatkan harga kedelai impor lebih murah dengan ukuran biji lebih besar. Akibatnya petani semakin enggan menanam kedelai karena kalah bersaing. Dampak dari ketergantungan pada kedelai impor ini sebenarnya cukup membahayakan. Pada tahun 2005 kita pernah mengalami goncangan harga kedelai impor dan ini mengakibatkan banyak perajin tahu dan tempe yang gulung tikar karena tak mampu membeli bahan baku. Pemerintah mencanangkan untuk swa sembada kedelai pada tahun 2011. Swa sembada kedelai akan sia-sia jika tidak diikuti oleh manajemen distribusi dan transportasi yang baik, karena akan menimbulkan beban biaya yang sebenarnya tidak diperlukan.
Saluran distribusi memegang peranan penting untuk menekan biaya trasnportasi. Transportasi produk pertanian membutuhkan waktu yang relative lebih cepat dibandingkan produk elektronik. Meskipun kedelai merupakan produk kering, namun pengaruh cuaca dapat mempengaruhi kualitas kedelai selama transportasi dan penyimpanan. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang sentra produksi kdelai dan sentra perajin tahu tempe agar kerusakan akibat transportasi dapat diminimalkan.
Keberadaan varietas kedelai mutlak diperlukan untuk meningkatkan ketertarikan petani pada budidaya kedelai lokal. Dalam hal iniPemerintah melaluiDepartemen Pertanian telah melepaskan berbagai varitas unggul. Sebagai contoh pada tahun 1998 Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) MALANG telah melepas sebanyak 10 varietas kedelai unggulan. Kesepuluh varietas kedelai ini memiliki kualitas yang lebih unggul dibanding kedelai impor. Kedelai varietas unggul ini memiliki biji besar dan kandungan protein mencapai 42 persen. Bibit varietas unggulan yang telah dilepas adalah Burangrang, Anjasmoro, Argomulyo, Panderman, Argopuro, Gumitir, Baluran, Bromo, Merubetiri, dan Mahameru (Widianto, 2008).
Hasil produksi kedelai lokal optimal mencapai 2 ton per hektar dengan masa tanam sekitar 75 hari atau maksimal tiga bulan. Cita rasanya juga lebih enak dibanding kedelai impor, karena masih fresh dari panen. Sementara kedelai impor umumnya hasil panen tahun lalu. Permasalahannya tempe berbahan kedelai lokal cepat busuk, karena petani tidak melakukan pegeringan pasca panen secara maksimal sehingga, tingkat kekeringannya berbeda-beda dan mudah busuk saat disimpan atau digunakan. Kendala ini mestinya segera diatasi agar tidak menjadikan petani semakin enggan menanam kedelai atau perajin enggan menggunakan kedelai lokal.
Produktivitas rata-rata kedelai nasional masih rendah, tahun 2007 mencapai 13,07 ku/ha atau 1,3 ton/ha. Potensi hasil ditingkat penelitian dan percobaan mencapai 2 ton atau lebih. Senjang hasil masih tinggi antar ditingkat petani dan penelitian.